Malam Pasca Purnama Kala Kunang Jadi Raja


PENJATUH CINTA
December 18, 2007, 5:01 am
Filed under: Uncategorized

When I
know that you’re not alone than I’am all alone

Siapa sangka si penjatuh cinta kali ini kecewa
untuk kesekian kalinya. Padahal dulu ia sempat berjanji untuk tidak jatuh cinta
lagi. Karena memang cinta yang selalu membawanya hidup, dan terakhir kali
kudengar dia mau mati saja. Memang cinta yang tak bisa dihindarinya itu seperti
cinta-cinta lainnya, hanya bisa jadi sedikit lebih banyak atau mungkin sedikit
lebih kurang. Tapi lagi-lagi cinta
yang memang
sudah menjadi warnanya sehari-hari itu
 lah yang selalu
membuatnya jatuh. Sudah kunasehati berulang-ulang untuk berhentilah sekali
-kali mencinta!
Buat apa buang waktu untuk menye-menye melulu.
 Tapi
tetap saja, namanya juga si pejantuh cinta, dengan pembelaan tidak sengajanya
ia jatuh cinta lagi. Dan begini lah akibat dari jatuh cintanya kali ini,
kecewa. Dia bilang dia baru dibohongi (lagi?!?@#$), cuman bedanya kali ini ia
dijebak ketika dia sedang belajar untuk tidak mudah jatuh cinta. Yeah so obvious,
kataku. Tadinya memang ia tidak ingin percaya, atau memang belajar untuk
meniadakan rasa di hatinya yang mulai menggelitiknya tidak biasa. Hingga tanpa
disadarinya penyakit itu tumbuh inci demi inci menjalar ruas demi ruas dari
otak hingga ke hatinya. Yah seperti yang lalu-lalu kini ia hanya bisa meringkuk
dalam batas gelap rasanya. Sudah lah biarkan dia mengobatinya sendiri, dia juga
sudah tau koq paracetamol terbaik untuk hatinya. Karena seperti biasa aku juga
tidak bisa berbuat apa-apa jika si pejantuh cinta sudah jatuh sakit begini.



SEKENARIO HUJAN
December 13, 2007, 4:58 am
Filed under: Uncategorized

Ayoo!! Ikut aku!! mariii kita menari! Tidakkah
kau melihat riak hujan diluar sana mulai berseru nakal. Menunggu kita
memercikan kaki kita di genangan-genangannya. Dan dengarkan lagi, coba kali ini
kau arahkan telingamu pada gemuruh lagu sendu sang Guntur. Dia malu-malu,
sangat malu-malu. Aneh, tidak biasanya sang Guntur tertidur. Apa mungkin memang
sekenario hujan kali ini hanya bertempo pada sekedar simfoni lirih? Rintiknya
pun semakin genit menjadi-jadi. Menggoda kita yang panik mencari kehangatan
cinta disini. Sesaat saja sayang, biarkan sesaat saja, dan kuharap bukan untuk
yang terakhir kali. Ayoo kita menari! Mengenang sebuah ciuman hangat dibawah
hujan.

it’s
gonna be ok
it’s just another way
of being unhappy
tomorrow i’ll be fine
please don’t waste our time
you’re not lucky to be free

now i know
i was wrong about you
i still can’t be without you

spending time
away from everything
only missing you

but it’s gonna be ok
it’s just another way
of being unhappy

-club 8-



SANG APRIL
December 5, 2007, 4:06 am
Filed under: Uncategorized


Bersimpuh mengiba arwah jiwa para pejuang-pejuang Rama. Wahai pandita penghuni swarga loka. Basuhlah raga dosa penghuni jagad raya. Mengais rapuh serat-serat ratapan derita manusia. Bawalah hamba pergi, biarlah hamba mendamba kasih. Sepercik, meski setitik, berikan hamba bahagia. Makna ketulusan jiwa, kebebasan rasa. Hamba mohon bawalah hamba bersama….

Ketika sang April tidak lagi mengejumawahi perasaan putrinya. Itu juga ketika dia menangis mengiba rasa. Dan kembali sang April mencabik-cabik harapan papa, lagi, kembali, terulang, tapi mungkin tak sesakit dulu. Sudah pula terbiasa meluka. Tak sedikit waktu yang dilaluinya dijalanani dengan sepi. Meski riuh, tetap saja sunyi. Sang April merasa, “Ngga koq aku baik-baik saja” berucap dengan penuh ketegaran yang lebih terdengar sebagai ekspresi tidak peduli atas keprihatinan sang putri. Ada saatnya ketika Sang April pergi menjauh, hatinya yang begitu luruh mengutuk-ngutuk harapannya sendiri. Terkutuklah pilihan dan ucapannya, yang begitu menyangkal akan datangnya cinta. Sang April yang cukup membuat gelisah, menyisakan berbagai tanda tanya dan dilema. Sesungguhnya Sang April tidaklah bersalah, karena memang tiada janji, tiada pula tumbuh kewajiban untuk saling memuji. Tigalah putri sendiri menadahi rintikan hujan yang mungkin masih tersisa dari bulan April..



KOPI BUMBU ASAM LAMBUNG
October 25, 2007, 5:25 am
Filed under: Uncategorized

Secangkir kopi pahit berbumbu rintik hujan dikala perih menghadang. Paduan
yang dasyat. Aku pun mulai mual ketika si asam lambung ternyata tidak mampu berkompromi dengan kafein pelipur
lara neuron-neuron otakku. Nah satu lagi nih, ditambah rempah-rempah manis
pemikiran-pemikiran yang sedari tadi bergelayut di kepala, tentang
kebodohan-kebodohan kaum adam. Mantaaappp… Aku pun mengais-ngais kebingungan
tak berdaya ketika jiwa yang terbalut dalam tubuh wanitaku menangis tidak
karuan. Apakah masih tersisa sedikit percaya bahwa memang antara aku dan mereka
bisa saling bicara. Kali ini yang benar-benar bicara dalam satu bahasa, tidak
perlu mengulang tidak perlu penekanan, interupsi, maupun motivasi-motivasi
terselubung, dan yang paling penting tidak perlu penterjemah ataupun buku-buku
tips yang menyimbolkan jenis kelamin kami dalam karakter-karakter planet. Masalahnya
ini bukan hanya tentang ”dia”, tapi ini tentang dia-dia yang kemudian berkumpul
secara kolektif dengan kecenderungan perilaku dan pola pikir yang sama sehingga
terbentuklah koalisi yang berada dalam satu stereotipe. Sial, aku mulai
kehilangan kacamata ke objektifanku. Kemana…kemana larinya referensi?!@#$ aku
butuh referensi baruuuu. Ayo dong kalian!! Bersikaplah lebih dinamis seperti
yang sudah terungkap dalam teori-teori sosiologi soerjono soekamto. Bahwa
manusia sebagai mahluk sosial itu bla..bla..blaa..similikiti..bala..bala..



CUUPP..CUPP..CUUP…
October 6, 2007, 10:25 am
Filed under: Uncategorized

Argghh dimana kamu sembunyikan kebohongan cintamu. Yang jelas nyata-nyata
tiada. Dan makin manis kian hari ku menghamba untuk berjumpa. Melekatkan tubuh
yang haus akan resapan naluri, meski jauh-jauh hari kucoba untuk mengkebiri. Sayang
aku hanya ingin tidur di pelukmu, hangat rasa belaian jiwa tiada lagi biasa. Tak
perlu berbohong kan?

Pssttt…coba dengarkan sayang kini hanya ada kita dan dunia bodoh di luar
sana yang merasa kian sok tau setiap harinya. Aku tokh tetap tidak perduli,
buat apa mengurusi kekerdilan otak-otak mereka.

Apa?!? Kau ingin aku diam, setelah ku mempertaruhkan sejuta bahagia dalam
sepiku, kau ingin aku diam? Iya hanya karena kau tidak ingin anak kecil itu
tau. Hahahahahaha….

Kenapa sayang? Susah ngurusin anak kecil? Hihihi…iya aku tau, biar
kuberikan potongan coklat ini ke dia. Sayangg…sayang…masih saja kau percaya
permen adalah obat termanis untuk membungkam tangisnya.

Tenang saja! aku cukup cerdas koq untuk memilih peran. Jadi sekalian saja
ku bilang kalo aku sinting, dan semua masalah beres! Iya dunia memang sangat
memaklumi orang-orang gila. Seakarang biarkan kuteriakan ini di telinganya. Aku
gila dan aku bahagia!

Eh sayang, liat dehh. Emang dasar anak kecil suka sekali yah ngarak orang
gila keliling kampung. Oya aku lupa, kamu kan anak kecil juga..



TARIAN OMBAK
September 18, 2007, 6:48 am
Filed under: Uncategorized

Dalam sebuah tarian ombak. desir jiwa mengalir bersama alunan dentuman bass dan tarikan cello, malam itu ketika pecahan ombak menyentuh bibir pantai Jimbaran, kuregangkan tiap ruas ototku. Membiarkan irama musik dan jeritan orang-orang di meja makan menyatu dalam bait-bait irama ringan.Asap harum sajian makan malam pun berhembus bersama nafas-nafas beraroma bir yang keluar dari bibir-bibir nakal berbincang halus. Aku lelah mengecap cerita ringan dan lucu sedari tadi. Aku pilih menepi pada  bibir pantai Jimbaran dengan ramai hiruk pikuk ombak mengiring malam, membiarkan buih-buihnya mengejar jejak-jejak kakiku untuk kembali menarik pasirnya ke laut. Kucoba berlari-lari kecil ketika panjang ombak membesar menenggelamkan mata kakiku. Sementara itu tak henti-hentinya juga kuhirup dalam-dalam harum garam semerbak getir asin bau pantai malam itu. Dan orang-orangpun mulai bernyanyi di ujung sana disana, mabuk, dan saling menyentuh, merekatakan tubuh-tubuh mereka dalam alunan malam yang menghangatkan mereka dari dinginnya angin-angin laut. Aku pun kembali berlari mengejar ombak yang memilih tertarik ke laut. Melopat dalam hitungan staccato berputar, dan melompat lagi.  Temaram lentera jimbaran pun mengerjap-ngerjap malu mengikuti harmonisasi bayang-bayangku yang masih terus menari dan menari bersama langkah-langkah nakal pemecah ombak. Irama pun kian naik pada hitungan yang lebih dinamis intens dan cepat, seiring larutnya malam, menggelayuti setengah purnama temaram penyelimut garis pantai. Kali ini kakiku memilih berlari lebih cepat menantang ombak, meyapu buih-buihnya kesana kemari, terjatuh untuk kemudian bangkit lagi. melangkah rapat-rapat dan membentang lagi. Ku liukan jemariku, bersama irama tubuh dan peluh yang menyatu dengan asinnya air laut. Ku kerjapakan mataku nakal sambil  tertawa, tersenyum, dan menari sepuas-puasnya sendiri. Tanpa menyadari kau terduduk di tepi pasir kering dengan segelas bir sedari tadi. Tersenyum dan tertawa kecil memandangku dalam tatapan anak-anak penonton pertunjukan boneka tali.



KENAPA MALAM INI HARUS HUJAN
August 23, 2007, 8:47 am
Filed under: Uncategorized

Kenapa malam ini harus hujan. Dikala purnama bersinar dengan terangnya.
Jadi siapapun takkan percaya kalau malam ini benar-benar hujan. Padahal mereka
melihat sang bulan sedang tertawa begitu indahnya. Lalu siapa yang harus
disalahkan akan hujan yang di buat oleh wanita berjas merah marun. Tidak ada,
tidak ada yang percaya karena memang tidak ada cerita tentang wanita berjas
merah marun yang selalu mendatangkan hujan kala purnama. Mereka bilang ia
adalah titisan dewi sri era millennium. Pembawa berkah semesta alam, kehidupan
bagi sang mahluk-mahluk hidup. Mereka juga pernah bilang bahwa wanita itu hanya
perempuan biasa yang ditinggal mati oleh kepercayaannya. Lalu sang wanitapun
kembali tertegun pada hujan yang sedari tadi mengiringi langkahnya. Kamu tak ma
berhenti? Tanyanya dalam hati. Mungkin kemarau panjang kemarin begitu sombong
menahanmu terlalu lama dalam lapisan-lapisan crumulus. Wahai hujan, mengapa kau
begitu berhasrat malam ini? Mengalir seolah kau ingin mengairi tanah retak yang
terkoyak panas. Iya hujan kali ini memang begitu berhasrat menyelimuti malam
yang dirindukan oleh orang-orang. Malam-malam dimana mereka meringkuk masuk ke
dalam selimut dan mulai merajuk menggapai-gapai jari-jari pasangannya. Tidak
sedikit hujan kali ini turun dan tidak sebentar sang guntur ikut menggelegar,
meski masih terdengar sayup-sayup malu, sang guntur pun tetap setia mengiringi
irama hujan. Disibakkanya jas merah marun yang kuyup dan basah. Tidak begitu
berarti,bahkan bisa dibilang hanya menjadi tindakan ala kadaranya pengusir
sepi. Wanita berjas merah marunpun berjalan membelah kubangan-kubangan air yang
tergenang di aspal. Berharap ada satu kubangan besar yang bisa di lompatinya
hanya untuk mengukur sejauh apa dia bisa melangkah. Dipandangnya lamat-lamat
bayangan gelap yang terpantul dari lampu-lampu jalan ibukota, Mengabur seiring
dengan pecahan air di lubang jalan.



FAKEISM
August 23, 2007, 8:45 am
Filed under: Uncategorized

Sekarang aku
berfikir menjadi lesbian kadang lebih terhormat daripada menjadi pelacur tanpa
tanda jasa. Semua terjadi ketika hidup tak lagi memandangmu dari pandanganmu
sendiri. Hidup memang lebih suka berkaca pada apa yang telah tertangkap di bayang-bayang
mereka. Hiperialis kata temanku. Semua harus sakit, semua harus meronta dan
semua menjadi begitu tidak berarti ketika sebuah ekspektasi besar yang jadi
tujuan utama masyarakat pada umumnya memilih berakhir dengan ironis. Aku
sendiri seakan menjadi sampah produk kegagalan sistem manusia sempurna harapan
warga-warga penghuni negeri utopia hanya karena aku memutuskan untuk tidak jadi
menikah. Sebuah kompleksitas semu yang nota bene jadi suatu hal yang begitu
dibesar-besarkan dengan segala pengatas nama baikan keluarga. Haloo Leoni, kita
itu sudah jelas-jelas terlahir dalam sebuah system yang tercetak di urat nadi
kita bahkan saat kita masih berbentuk janin. Iya itu makannya kita semua punya
nama. Dan begitu pula yang terjadi apabila janin-janin ditemukan berserakan di
got-got perumahan. Semua ikut heboh, mulai dari kepolisian, Pak RT, tokoh
agama, hingga menteri dan penjabat ikut merasa perlu mencari muka dalam peranan
tokoh pembela kebenaran dan keadilan. So fake..

So…life is a really
really doesn’t have their own real meaning
isn’t it?Makannya jangan percaya sama apapun kecuali Tuhan, bahkan pada meraka
yang mengaku sebagai agen-agen Tuhan namun hanya sibuk membenarakan apa yang mereka
percaya melebihi ke-Tuhanan itu sendiri. Karena lagi-lagi itu hanya jadi bahan
konsumerisme publik saja dan saat ini anda bahkan bisa mulai memilih ustad mana
yang sedang naik daun. Ehmm.. kayaknya yang itu dah ngga lagi deh, abis dia
poligami…kalo yang boleh deh abis muda, ganteng, suaranya bagus.Jadi siap-siap
aja mantengin wajah pendatang baru kita di dunia konsumerisme agama di depan
layer kaca anda untuk edisi bulan ramadhan taun ini.



PERNIKAHAN KEDUA IBUKU
August 2, 2007, 5:28 am
Filed under: Uncategorized

Mbaa jangan
lupa itu daftar undangannya diketiikk,

Iya buuuu..

Mba itu
design udangannya dah jadi belum,

Lagi
dibikin bu…

Mba untuk
seragam jadinya warna nya pink kan ngga usah ganti-ganti deh nanti susah lagi,

Pinkk??@#$
Mate aja deh aku buuu…

Semua ini
tampak seperti perkawinan ke dua Ibu dibandingan pensakralan hubungan kami.
Pensakralan?? Apakah sudah begitu jauhnya manusia dari rasa eksistensi hingga
begitu membutuhkan pengakuan orang lain. Dan lagi semua embel-embel upacara
adat jadi daftar kewajiban yang tertempel di jidat.

Kenapa siy
ngga bisa simpel-simpel aja??

Karena kamu
punya orang tua sayang. Kalo kamu terlahir dari rahim kuda nil kamu ngga bakal
seribet ini. Udah deh ikutin aja maunya mereka dari pada kualat dan ada
apa-apanya nanti kamu nyesel.

Arrrgghh…

Jadinya
taun depan niy?

Iya habis
kan ngga boleh setahun dua kali. Yah Ibu mah cuman ngikutin aja, kata
embah-embah ngga boleh adik kakak menikah bareng dalam satu tahun yang sama.
Nanti ada salah satu yang kalah. Yah kamu liat aja contohnya…bla..bla…

Adu Ibuu
emang kita hidup di jaman Mahabarata dan Ramayana apa. Lah kan orang jaman dulu
ngga boleh nikah setaun dua kali karena modalnya berat kale. Lagian mana ada
kawinan yang untung, dimana-mana pasti tekor lah. Kecuali kalo emang
udangan-undangannya para pejabat. Apalagi kalo semua orang memiliki konsep
sebuah pernikahan seperti yang ada di benak Ibu.

Jadi aku
kata Ibu, Ibu kata Embah, Embah kata orang jaman dulu. Jadi tinggalah
kata-kata…

Kalo ngga
gara-gara takut kualat mendingan kawin lari deh..



BINTANG MERAH TERTAWA DALAM PURNAMA
August 2, 2007, 5:25 am
Filed under: Uncategorized

Ketika sebuah ruang
berbagi menjadi begitu hangat dengan ratapan mendalam seorang perempuan sakti
mandraguna.
Aku hanya ingin kau menciumku di pantai itu dengan bulan yang
teramat cantik. Tapi tidak pula kau lakukan, tidak pula sebuah pelukan. Kamu
memang terlalu baik dan aku hanya ingin mencoba jujur. Karena ketika sang
purnama jatuh di buih-buih ombak, ada deru haru seribu ragu tentang kelelahan
menjadi seorang jagoan yang mendambakan kenyaman menjalankan kehidupan.
Kau pun terdiam dan mendengarkan, lagi hanya pecahan ombak yang menjawab. Apakah
memang tiada rasa disana, dan aku pun berhenti menunggu jawaban, karena gemuruh
ombak milikmu terdengar begitu lirih di telingaku, mungkin angin laut
malam ini terlalu pelit untuk berhembus menyelesaikan ceritanya.
Aku hanya ingin menangis.. dan mengapa tidak kau biarkan saja tangis itu terjatuh di
didamu. Pfftt…pepatnya dada ini tak bisa menyelesaikan tangisku dengan
sempurna, karena engkau dengan begitu cerdasnya tidak membiarkan aku menangis
begitu saja. Kamu terlalu takut untuk melihatku menangis…