Cuman beda satu huruf t, what will make any difference anyway?!?
“Latte Love” berarti minum kopi dengan campuran susu hangat di pagi hari setelah lelah bercinta. Setidaknya rasa hangat dan kental susu bisa menggantikan asam mulut sisa tukar saliva semalam.
Lalu bagaimana dengan “Late Love”? Ini yang ada hanya rasa asam, seperti kecutnya jeruk nipis dalam ice lemon tea tanpa gula cair. Cinta yang datang telat, cuman bisa membuat dua mahluk yang terkena aksi dan reaksinya cengar cengir sendiri menahan kecut.
Maklum saya raga, saya hanya mengenal apa yang bisa dirasakan indra. Jadi wajar saja penggambaran saya hanya berkisar pada kepekaan fisik dan apa yang bisa dirasakan oleh kulit. Jadi kalo tiba2 saya terkena alzaimer, mendandak lumpuh atau terserang stroke, saya mungkin hanya bisa mengetik … … …
Filed under: Uncategorized
Yak,
Sebuah koper terbuka lebar di hadapanku, menganga nganga bingung, bertanya apa fungsinya ia berada disitu dibawa jauh jauh dari rumah satunya. Ibu pun berteriak teriak dan ngedumel sambil lalu.
“Coba pikirin buat packing sesimple mungkin”,
sial kutukku dalam hati
“Seandainya 26 tahun hidupku di Jakarta bisa muat dalam sebuah koper untuk kubawa jauh ke Melbourne, tentu sudah kulakukan sedari tadi”.
20 kilogram, batas beban yang memungkinkan untuk kubawa jauh ke negeri orang. Tak sebanding dengan 21 gram ukuran roh ku yang akan melayang ketika ia pergi dari raga ku. Dan jika aku disuruh memilih, aku ingin menukar 20 kilogram 26 tahun kisah ku di sini dengan 21 gram sukmaku yang baru.
“Mba, pokoknya ibu cuman bisa ngebekelin seadanya”
“Iya bu aku juga ngerti, sampai sana aku nanti aku juga nyoba untuk mengais-ngais sendiri”
Sumpah serapah ku tujukan ke diriku sendiri yang berusaha untuk memberikan keyakinan terbesar pada Ibu untuk dengan berani melepas diriku. Dengan melayang-layang sedih pilu mulai kubayangkan hidupku disana, bertahan hidup, mencari makan, mengurus sakit sendiri, sedih sendiri…
Yang pasti kali ini tiada lagi kunjungan rutin mingguan untuk sekedar membekali sarden, beras, maupun corned, seperti ketika aku di Bandung. Tiada lagi jemputan darurat jam 12 malam pulang ke Jakarta ketika aku tak berdaya terserang asma.
Fuihh, apa yang bisa dilakukan oleh badan sekecil, bodoh, dan selabil ini di kota asing sebesar Melbourne. Dibilang nekat ngga juga, Meski tak berbayang sedikitpun kehidupanku disana, kuberanikan diri untuk merubah hidupku. Iya aku memang membutuhkan sebuah revolusi, dan tidak hanya menunggu sebuah evolusi…
Dan lagi, dia datang dalam puisi revolusiku. Tak berbayang, laksana kilat menumpang kereta kencana. Mengecup keningku dengan kisah musim semi yang tadinya sendiri. Dalam sebuah serangan hangat peluruh beku, ia dongengkan aku tentang cinta-cinta, tentang rasa-rasa, tentang ceria, tentang dia, dan daun-daunnya.
“Oalah gustii…”
Aku lemah…
Yang datang bukan lagi sebagai penjaja senjata dan pemasok anggur-anggur perayaan revolusi. Yang datang bukan lagi sebagai utusan negeri lawan yang menawarkan gencatan senjata berupa pembagian tanah daerah-daerah kekuasaan.
Dia yang datang sebagai ia, hanya ia, telanjang… tak mengerti. Seperti adam yang baru diturunkan kebumi. Meracau raucau dalam bahasanya yang asing, tapi bisa ku mengerti. Aneh, untuk apa? Mengapa disaat revolusi sedang menjejakan kaki-kakinya di hidupku, saat pedang2 mulai diasah, saat kuda-kuda mulai dipasangkan pelana. Aku bermimpi, mimpi yang begitu indah, membawaku dalam kebersediaan untuk kalah, kalah dalam sebuah rasa berani dan keyakinan. Dan mendambaku untuk tak takut jatuh, memberiku mimpi di bulan dalam daya gravitasi nol. Dimana aku bahkan melupakan apa arti jatuh itu sendiri….
31 detik menuju peluncuran ke mars, ia masih di sampingku, malah menggengam tanganku kian erat, ini revolusi yang mana sayang?