Filed under: Uncategorized
Bersimpuh mengiba arwah jiwa para pejuang-pejuang Rama. Wahai pandita penghuni swarga loka. Basuhlah raga dosa penghuni jagad raya. Mengais rapuh serat-serat ratapan derita manusia. Bawalah hamba pergi, biarlah hamba mendamba kasih. Sepercik, meski setitik, berikan hamba bahagia. Makna ketulusan jiwa, kebebasan rasa. Hamba mohon bawalah hamba bersama….
Ketika sang April tidak lagi mengejumawahi perasaan putrinya. Itu juga ketika dia menangis mengiba rasa. Dan kembali sang April mencabik-cabik harapan papa, lagi, kembali, terulang, tapi mungkin tak sesakit dulu. Sudah pula terbiasa meluka. Tak sedikit waktu yang dilaluinya dijalanani dengan sepi. Meski riuh, tetap saja sunyi. Sang April merasa, “Ngga koq aku baik-baik saja” berucap dengan penuh ketegaran yang lebih terdengar sebagai ekspresi tidak peduli atas keprihatinan sang putri. Ada saatnya ketika Sang April pergi menjauh, hatinya yang begitu luruh mengutuk-ngutuk harapannya sendiri. Terkutuklah pilihan dan ucapannya, yang begitu menyangkal akan datangnya cinta. Sang April yang cukup membuat gelisah, menyisakan berbagai tanda tanya dan dilema. Sesungguhnya Sang April tidaklah bersalah, karena memang tiada janji, tiada pula tumbuh kewajiban untuk saling memuji. Tigalah putri sendiri menadahi rintikan hujan yang mungkin masih tersisa dari bulan April..
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>