MY BLUEBERRY NIGHTS
At the
end of every night a cheese cake and the apple pie are always completely gone.
There’s piece cobbler and chocolate mousse cake are nearly finish. But it’s
always a whole blueberry pie left untouched. So what’s wrong with the blueberry
pie? It’s nothing wrong with the blueberry pie. People make another choices,
you can’t blame the blueberry pie, it’s just no one wants it.
-jude law playin as jeremy-
PENJATUH CINTA
When I
know that you’re not alone than I’am all alone
Siapa sangka si penjatuh cinta kali ini kecewa
untuk kesekian kalinya. Padahal dulu ia sempat berjanji untuk tidak jatuh cinta
lagi. Karena memang cinta yang selalu membawanya hidup, dan terakhir kali
kudengar dia mau mati saja. Memang cinta yang tak bisa dihindarinya itu seperti
cinta-cinta lainnya, hanya bisa jadi sedikit lebih banyak atau mungkin sedikit
lebih kurang. Tapi lagi-lagi cinta yang memang
sudah menjadi warnanya sehari-hari itu lah yang selalu
membuatnya jatuh. Sudah kunasehati berulang-ulang untuk berhentilah sekali-kali mencinta!
Buat apa buang waktu untuk menye-menye melulu. Tapi
tetap saja, namanya juga si pejantuh cinta, dengan pembelaan tidak sengajanya
ia jatuh cinta lagi. Dan begini lah akibat dari jatuh cintanya kali ini,
kecewa. Dia bilang dia baru dibohongi (lagi?!?@#$), cuman bedanya kali ini ia
dijebak ketika dia sedang belajar untuk tidak mudah jatuh cinta. Yeah so obvious,
kataku. Tadinya memang ia tidak ingin percaya, atau memang belajar untuk
meniadakan rasa di hatinya yang mulai menggelitiknya tidak biasa. Hingga tanpa
disadarinya penyakit itu tumbuh inci demi inci menjalar ruas demi ruas dari
otak hingga ke hatinya. Yah seperti yang lalu-lalu kini ia hanya bisa meringkuk
dalam batas gelap rasanya. Sudah lah biarkan dia mengobatinya sendiri, dia juga
sudah tau koq paracetamol terbaik untuk hatinya. Karena seperti biasa aku juga
tidak bisa berbuat apa-apa jika si pejantuh cinta sudah jatuh sakit begini.
SEKENARIO HUJAN
Ayoo!! Ikut aku!! mariii kita menari! Tidakkah
kau melihat riak hujan diluar sana mulai berseru nakal. Menunggu kita
memercikan kaki kita di genangan-genangannya. Dan dengarkan lagi, coba kali ini
kau arahkan telingamu pada gemuruh lagu sendu sang Guntur. Dia malu-malu,
sangat malu-malu. Aneh, tidak biasanya sang Guntur tertidur. Apa mungkin memang
sekenario hujan kali ini hanya bertempo pada sekedar simfoni lirih? Rintiknya
pun semakin genit menjadi-jadi. Menggoda kita yang panik mencari kehangatan
cinta disini. Sesaat saja sayang, biarkan sesaat saja, dan kuharap bukan untuk
yang terakhir kali. Ayoo kita menari! Mengenang sebuah ciuman hangat dibawah
hujan.
it’s
gonna be ok
it’s just another way
of being unhappy
tomorrow i’ll be fine
please don’t waste our time
you’re not lucky to be free
now i know
i was wrong about you
i still can’t be without you
spending time
away from everything
only missing you
but it’s gonna be ok
it’s just another way
of being unhappy
-club 8-
SANG APRIL
Bersimpuh mengiba arwah jiwa para pejuang-pejuang Rama. Wahai pandita penghuni swarga loka. Basuhlah raga dosa penghuni jagad raya. Mengais rapuh serat-serat ratapan derita manusia. Bawalah hamba pergi, biarlah hamba mendamba kasih. Sepercik, meski setitik, berikan hamba bahagia. Makna ketulusan jiwa, kebebasan rasa. Hamba mohon bawalah hamba bersama….
Ketika sang April tidak lagi mengejumawahi perasaan putrinya. Itu juga ketika dia menangis mengiba rasa. Dan kembali sang April mencabik-cabik harapan papa, lagi, kembali, terulang, tapi mungkin tak sesakit dulu. Sudah pula terbiasa meluka. Tak sedikit waktu yang dilaluinya dijalanani dengan sepi. Meski riuh, tetap saja sunyi. Sang April merasa, “Ngga koq aku baik-baik saja” berucap dengan penuh ketegaran yang lebih terdengar sebagai ekspresi tidak peduli atas keprihatinan sang putri. Ada saatnya ketika Sang April pergi menjauh, hatinya yang begitu luruh mengutuk-ngutuk harapannya sendiri. Terkutuklah pilihan dan ucapannya, yang begitu menyangkal akan datangnya cinta. Sang April yang cukup membuat gelisah, menyisakan berbagai tanda tanya dan dilema. Sesungguhnya Sang April tidaklah bersalah, karena memang tiada janji, tiada pula tumbuh kewajiban untuk saling memuji. Tigalah putri sendiri menadahi rintikan hujan yang mungkin masih tersisa dari bulan April..