Malam Pasca Purnama Kala Kunang Jadi Raja


KOPI BUMBU ASAM LAMBUNG
October 25, 2007, 5:25 am
Filed under: Uncategorized

Secangkir kopi pahit berbumbu rintik hujan dikala perih menghadang. Paduan
yang dasyat. Aku pun mulai mual ketika si asam lambung ternyata tidak mampu berkompromi dengan kafein pelipur
lara neuron-neuron otakku. Nah satu lagi nih, ditambah rempah-rempah manis
pemikiran-pemikiran yang sedari tadi bergelayut di kepala, tentang
kebodohan-kebodohan kaum adam. Mantaaappp… Aku pun mengais-ngais kebingungan
tak berdaya ketika jiwa yang terbalut dalam tubuh wanitaku menangis tidak
karuan. Apakah masih tersisa sedikit percaya bahwa memang antara aku dan mereka
bisa saling bicara. Kali ini yang benar-benar bicara dalam satu bahasa, tidak
perlu mengulang tidak perlu penekanan, interupsi, maupun motivasi-motivasi
terselubung, dan yang paling penting tidak perlu penterjemah ataupun buku-buku
tips yang menyimbolkan jenis kelamin kami dalam karakter-karakter planet. Masalahnya
ini bukan hanya tentang ”dia”, tapi ini tentang dia-dia yang kemudian berkumpul
secara kolektif dengan kecenderungan perilaku dan pola pikir yang sama sehingga
terbentuklah koalisi yang berada dalam satu stereotipe. Sial, aku mulai
kehilangan kacamata ke objektifanku. Kemana…kemana larinya referensi?!@#$ aku
butuh referensi baruuuu. Ayo dong kalian!! Bersikaplah lebih dinamis seperti
yang sudah terungkap dalam teori-teori sosiologi soerjono soekamto. Bahwa
manusia sebagai mahluk sosial itu bla..bla..blaa..similikiti..bala..bala..



CUUPP..CUPP..CUUP…
October 6, 2007, 10:25 am
Filed under: Uncategorized

Argghh dimana kamu sembunyikan kebohongan cintamu. Yang jelas nyata-nyata
tiada. Dan makin manis kian hari ku menghamba untuk berjumpa. Melekatkan tubuh
yang haus akan resapan naluri, meski jauh-jauh hari kucoba untuk mengkebiri. Sayang
aku hanya ingin tidur di pelukmu, hangat rasa belaian jiwa tiada lagi biasa. Tak
perlu berbohong kan?

Pssttt…coba dengarkan sayang kini hanya ada kita dan dunia bodoh di luar
sana yang merasa kian sok tau setiap harinya. Aku tokh tetap tidak perduli,
buat apa mengurusi kekerdilan otak-otak mereka.

Apa?!? Kau ingin aku diam, setelah ku mempertaruhkan sejuta bahagia dalam
sepiku, kau ingin aku diam? Iya hanya karena kau tidak ingin anak kecil itu
tau. Hahahahahaha….

Kenapa sayang? Susah ngurusin anak kecil? Hihihi…iya aku tau, biar
kuberikan potongan coklat ini ke dia. Sayangg…sayang…masih saja kau percaya
permen adalah obat termanis untuk membungkam tangisnya.

Tenang saja! aku cukup cerdas koq untuk memilih peran. Jadi sekalian saja
ku bilang kalo aku sinting, dan semua masalah beres! Iya dunia memang sangat
memaklumi orang-orang gila. Seakarang biarkan kuteriakan ini di telinganya. Aku
gila dan aku bahagia!

Eh sayang, liat dehh. Emang dasar anak kecil suka sekali yah ngarak orang
gila keliling kampung. Oya aku lupa, kamu kan anak kecil juga..