Malam Pasca Purnama Kala Kunang Jadi Raja


KENAPA MALAM INI HARUS HUJAN
August 23, 2007, 8:47 am
Filed under: Uncategorized

Kenapa malam ini harus hujan. Dikala purnama bersinar dengan terangnya.
Jadi siapapun takkan percaya kalau malam ini benar-benar hujan. Padahal mereka
melihat sang bulan sedang tertawa begitu indahnya. Lalu siapa yang harus
disalahkan akan hujan yang di buat oleh wanita berjas merah marun. Tidak ada,
tidak ada yang percaya karena memang tidak ada cerita tentang wanita berjas
merah marun yang selalu mendatangkan hujan kala purnama. Mereka bilang ia
adalah titisan dewi sri era millennium. Pembawa berkah semesta alam, kehidupan
bagi sang mahluk-mahluk hidup. Mereka juga pernah bilang bahwa wanita itu hanya
perempuan biasa yang ditinggal mati oleh kepercayaannya. Lalu sang wanitapun
kembali tertegun pada hujan yang sedari tadi mengiringi langkahnya. Kamu tak ma
berhenti? Tanyanya dalam hati. Mungkin kemarau panjang kemarin begitu sombong
menahanmu terlalu lama dalam lapisan-lapisan crumulus. Wahai hujan, mengapa kau
begitu berhasrat malam ini? Mengalir seolah kau ingin mengairi tanah retak yang
terkoyak panas. Iya hujan kali ini memang begitu berhasrat menyelimuti malam
yang dirindukan oleh orang-orang. Malam-malam dimana mereka meringkuk masuk ke
dalam selimut dan mulai merajuk menggapai-gapai jari-jari pasangannya. Tidak
sedikit hujan kali ini turun dan tidak sebentar sang guntur ikut menggelegar,
meski masih terdengar sayup-sayup malu, sang guntur pun tetap setia mengiringi
irama hujan. Disibakkanya jas merah marun yang kuyup dan basah. Tidak begitu
berarti,bahkan bisa dibilang hanya menjadi tindakan ala kadaranya pengusir
sepi. Wanita berjas merah marunpun berjalan membelah kubangan-kubangan air yang
tergenang di aspal. Berharap ada satu kubangan besar yang bisa di lompatinya
hanya untuk mengukur sejauh apa dia bisa melangkah. Dipandangnya lamat-lamat
bayangan gelap yang terpantul dari lampu-lampu jalan ibukota, Mengabur seiring
dengan pecahan air di lubang jalan.



FAKEISM
August 23, 2007, 8:45 am
Filed under: Uncategorized

Sekarang aku
berfikir menjadi lesbian kadang lebih terhormat daripada menjadi pelacur tanpa
tanda jasa. Semua terjadi ketika hidup tak lagi memandangmu dari pandanganmu
sendiri. Hidup memang lebih suka berkaca pada apa yang telah tertangkap di bayang-bayang
mereka. Hiperialis kata temanku. Semua harus sakit, semua harus meronta dan
semua menjadi begitu tidak berarti ketika sebuah ekspektasi besar yang jadi
tujuan utama masyarakat pada umumnya memilih berakhir dengan ironis. Aku
sendiri seakan menjadi sampah produk kegagalan sistem manusia sempurna harapan
warga-warga penghuni negeri utopia hanya karena aku memutuskan untuk tidak jadi
menikah. Sebuah kompleksitas semu yang nota bene jadi suatu hal yang begitu
dibesar-besarkan dengan segala pengatas nama baikan keluarga. Haloo Leoni, kita
itu sudah jelas-jelas terlahir dalam sebuah system yang tercetak di urat nadi
kita bahkan saat kita masih berbentuk janin. Iya itu makannya kita semua punya
nama. Dan begitu pula yang terjadi apabila janin-janin ditemukan berserakan di
got-got perumahan. Semua ikut heboh, mulai dari kepolisian, Pak RT, tokoh
agama, hingga menteri dan penjabat ikut merasa perlu mencari muka dalam peranan
tokoh pembela kebenaran dan keadilan. So fake..

So…life is a really
really doesn’t have their own real meaning
isn’t it?Makannya jangan percaya sama apapun kecuali Tuhan, bahkan pada meraka
yang mengaku sebagai agen-agen Tuhan namun hanya sibuk membenarakan apa yang mereka
percaya melebihi ke-Tuhanan itu sendiri. Karena lagi-lagi itu hanya jadi bahan
konsumerisme publik saja dan saat ini anda bahkan bisa mulai memilih ustad mana
yang sedang naik daun. Ehmm.. kayaknya yang itu dah ngga lagi deh, abis dia
poligami…kalo yang boleh deh abis muda, ganteng, suaranya bagus.Jadi siap-siap
aja mantengin wajah pendatang baru kita di dunia konsumerisme agama di depan
layer kaca anda untuk edisi bulan ramadhan taun ini.



PERNIKAHAN KEDUA IBUKU
August 2, 2007, 5:28 am
Filed under: Uncategorized

Mbaa jangan
lupa itu daftar undangannya diketiikk,

Iya buuuu..

Mba itu
design udangannya dah jadi belum,

Lagi
dibikin bu…

Mba untuk
seragam jadinya warna nya pink kan ngga usah ganti-ganti deh nanti susah lagi,

Pinkk??@#$
Mate aja deh aku buuu…

Semua ini
tampak seperti perkawinan ke dua Ibu dibandingan pensakralan hubungan kami.
Pensakralan?? Apakah sudah begitu jauhnya manusia dari rasa eksistensi hingga
begitu membutuhkan pengakuan orang lain. Dan lagi semua embel-embel upacara
adat jadi daftar kewajiban yang tertempel di jidat.

Kenapa siy
ngga bisa simpel-simpel aja??

Karena kamu
punya orang tua sayang. Kalo kamu terlahir dari rahim kuda nil kamu ngga bakal
seribet ini. Udah deh ikutin aja maunya mereka dari pada kualat dan ada
apa-apanya nanti kamu nyesel.

Arrrgghh…

Jadinya
taun depan niy?

Iya habis
kan ngga boleh setahun dua kali. Yah Ibu mah cuman ngikutin aja, kata
embah-embah ngga boleh adik kakak menikah bareng dalam satu tahun yang sama.
Nanti ada salah satu yang kalah. Yah kamu liat aja contohnya…bla..bla…

Adu Ibuu
emang kita hidup di jaman Mahabarata dan Ramayana apa. Lah kan orang jaman dulu
ngga boleh nikah setaun dua kali karena modalnya berat kale. Lagian mana ada
kawinan yang untung, dimana-mana pasti tekor lah. Kecuali kalo emang
udangan-undangannya para pejabat. Apalagi kalo semua orang memiliki konsep
sebuah pernikahan seperti yang ada di benak Ibu.

Jadi aku
kata Ibu, Ibu kata Embah, Embah kata orang jaman dulu. Jadi tinggalah
kata-kata…

Kalo ngga
gara-gara takut kualat mendingan kawin lari deh..



BINTANG MERAH TERTAWA DALAM PURNAMA
August 2, 2007, 5:25 am
Filed under: Uncategorized

Ketika sebuah ruang
berbagi menjadi begitu hangat dengan ratapan mendalam seorang perempuan sakti
mandraguna.
Aku hanya ingin kau menciumku di pantai itu dengan bulan yang
teramat cantik. Tapi tidak pula kau lakukan, tidak pula sebuah pelukan. Kamu
memang terlalu baik dan aku hanya ingin mencoba jujur. Karena ketika sang
purnama jatuh di buih-buih ombak, ada deru haru seribu ragu tentang kelelahan
menjadi seorang jagoan yang mendambakan kenyaman menjalankan kehidupan.
Kau pun terdiam dan mendengarkan, lagi hanya pecahan ombak yang menjawab. Apakah
memang tiada rasa disana, dan aku pun berhenti menunggu jawaban, karena gemuruh
ombak milikmu terdengar begitu lirih di telingaku, mungkin angin laut
malam ini terlalu pelit untuk berhembus menyelesaikan ceritanya.
Aku hanya ingin menangis.. dan mengapa tidak kau biarkan saja tangis itu terjatuh di
didamu. Pfftt…pepatnya dada ini tak bisa menyelesaikan tangisku dengan
sempurna, karena engkau dengan begitu cerdasnya tidak membiarkan aku menangis
begitu saja. Kamu terlalu takut untuk melihatku menangis…