LATERAL
Biarkan aku berzinah dengan pembenaran yang berjalan sejajar dengan harapan yang tak kunjung datang. Bergantung-gantung mengayun disapu angin musim kemarau. Dan biarkan kuciptakan bahagia ku sendiri, merajut kisahnya, menyusun bata-bata senang dan senyumannya sendiri. Kan kuukir lamat-lamat dengan manik-manik indah satu persatu agar tiadalah tampak retaknya. Sedikit sapuan warna ceria pasti kan memudarkan kusamnya, biar kucoba padukan dengan mutiara-mutiara sepuhan putih berkilau agar tiada lagi tersungging galau. Toh tiada yang kan menyadari bahwa ini semua hanyalah sekedar pembenaran. Mudah-mudahan mereka masih memandangnya sebagai harapan. Dan ketika ditanya aku hanya punya satu jawaban, Aku Bahagia…
BALADA PEREMPUAN DIATAS JOK
Sarung tangan, sweater, masker dan helm caberg hitam kesayangan. Kunci kontak dengan gantungan capoeira abu2. Tahan rem kiri nyalakan starternya, eits bu brangkat!! Cium tangan dan rambut berkeringat seusai senamnya. Tarik gas!! Slipi 82 A, Here I Come, Mengalun beat-beat dan suara Steven and Coconout trees dari Mp4 tak bermerek yang bentuknya serupa dengan ipod nano bajakan cina.
Aku ingin nyanyikan lagu…..
Buat kaum… kaum yang terbuang…
Hidup di alam bebassss uauhuk…uhukk…hoekk..
Huaahh!!, Kopaja sialan!! Tapi buat apa mengutuk, Asap solarnya itu loh mengganggu. Sialan Macet, banting strir ke kiri deh lewan jalan tikus. Geblek jalan tikus belakang harkit mang ribet, mana banyak polisi bo2nya lagi.
Yah Slipi 82 A, kantor ketiga yang selalu menjadi tujuan rutinitasku setelah 1 tahun ini meninggalkan Bandung, teman, sahabat, kebebasan, kuliah, cerita tentang ekspresi dan idealisme. “Le!! Mandi dulu dong!! Celetuk Petrus. Berantakan banget lo! Yah inilah lukisan kerasnya jalan Jakarta. Dalam hati aku mengutuk, kalo gw tinggal di apartemen gedung sebelah dan pulang pergi dianter jemput pake sedan mewah lo juga kagak bakalan punya alasan buat basa-basi negor gua dengan ceng-cengan basi kayak gitu. So f***in synical gw kumat. Tapi tetep ngga keluar celetukan baliknya. Yah begitulah hidupku diantara asap knalpot kendaraan Jakarta. Mulai dari jarak Sunter-Kelapa Gading hingga Sunter-Slipi, Mimo (Mio Motor) sayang siap sedia mengantarkanku tanpa rewel.
Weits jangan salah, odong-odong jepang ini ngga se cemen namanya. Biarpun terdengar imut mesin otomatis 110 cc ini bisa digeber duluan di setiap lampu merah, blum lagi bodynya yang aerodinamis mampu memanfaatkan ruang mini malis di setiap sela jalan jakarta yang macet. Jangan takut nyenggol mobil sebelah, karena dijamin ukuran Mimo ngga bakalan lebih gede dari motor standar lainnya, meski kadang suspensinya terbilang keras untuk menghadapi tiap jalan berlubang. Tapi masalah tersebut tidak lain dikarenakan ukuran ban yang kecil dengan velg racing yang lebih rentan penyok. Tapi selama kamu jeli dan hapal lobang-lobang yang ada ditiap jalanan yang lo lewatin, dijamin kamu bakalan melaju mulus bahagia tak terkira…