Filed under: Uncategorized
…Jadi
Dimana kau temukan hari ini? Didalam sebuak kotak makan siang berisi sandwich sisa kemarin?
Lagi rindu dengan sarkastik rasa lapar. Setelah berminggu-minggu menahan gejolak enzim sialan, membuatku semakin mual. Jadi tidak ada kompensasi sedikit pun untuk semua penyakit manusia-manusia modern ini? Setidaknya biarlah ku cicipi bau selembar bahagia dan rasa puas milikmu wahai sahabat! Aku tau aku memang munafik, seperti katamu. Aku pura-pura ngga butuh duit, tapi memang kenyataannya aku hanya butuh makan, meski terlihat tolol aku bahagia. Memang tipis sekali benang merah antara ketidaktahuan dan rasa takut. Kedua-duanya punya pembiasan fungsi. Seperti makna dari sebuah arti, bisa membiaskan harapan-harapan mu dari harapan yang ada dibenakmu sendiri. Jadi sebetulnya aku hanya butuh cerita, yah sebuah prosa mungkin yang membuatku dimaki dan dibuang oleh sahabatku sendiri. Dia mengalienasi pemikiranku, menjadikannya sebagai bahan percobaan tidak bermakna untuk kemudian dibuang karena dianggap terlalu berbahaya dan bisa mengancam kehidupan kami. Dan tetap dia menyebut kata “KAMI” yang berarti dua individu. Sudahlah! Setidaknya aku masih bisa diberi sedikit sisa ruang untuk bermakna. Jadi ada sebuah dialog unik yang coba kami ciptakan dalam andai-andai yang konyol. Menjerumuskanku pada sebuah ambiguitas tujuan. Kamu memang terlalu pintar membolak-balikan posisi. Setan! bedebah terkutuk peluruh makna. Berhentilah mengkonstruksi pikiranku dengan pendapatmu. Jadilah aku bajak laut kelaparan terombang ambing di laut lepas menunggu disantap hiu-hiu tolol! Mengapa semua harus kau benturkan dengan realitasmu sendiri?? Jadi ini hanya sekedar ego yang dibungkus kepedulian dan kasih sayang? Aku terlalu naif kali ini…