Filed under: Uncategorized
Aku benci kamu, yang telah mencanduku dengan seribu cinta senjamu. Seperti sosok pujangga dimasa laluku yang memuja-muja senja dengan segala atributnya. Dasar laki-laki aneh, seperti baru membaca Seno dan mulai mentertawakan dunia dengan segala kepincangannya. Padahal kamu bagian dari organ yang pincang itu. Lalu apa artinya sebuah senja yang hanya bisa kau bungkus, kau amplopi dan kau berikan pada kekasih butamu itu. Sebetulnya kamu bisa saja membeli sebuah pagi di toko2 obat yang menjual berbagai macam merk obat tidur.
Adaapa dengan senjamu itu, apa hanya sekedar basa-basi perayu Wanita? Karena sepertinya wanita-wanita jaman sekarang sudah tidak mampu untuk dirayu melalui jalur klenik. Kamu masih muda, masih terlalu muda untuk merasakan senja yang akhirnya tenggelam di garis pantai Ancol yang bau dan kotor karena kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan bencana ciptaan manusia. Biar saja kamu menjadi Arjuna yang berusaha menyelamatkan wangsa Bharata dari kepunahan melalui tabungan spermanya di darah Parikesit meskipun tetap saja tindakanmu tidak akan dipercaya sebagai sikap satria seutuhnya. Karena penilaian itu absurb, nilai-nilai kebaikan itu sendiri absurb. Kamu bagian dari mereka yang telah kau caci, bagian dari mereka yang kamu benci, bagian dari mereka yang kamu musuhi, dan kemudian kau bunuh. Kamu hanya terlalu idealis itu saja. Tapi sebuah idealisme tanpa didukung oleh kemampuan untuk merayu dan menjilat orang-orang disekitarmu hanyalah sebuah pengkebirian kenyamanan itu sendiri. Kamu memilih larut dalam jalan kesunyian, jalan sunyi seorang penulis yang harus dihadapi pada kesedihan-kesedihan perlawanan lingkunganmu, yang notabene bakal kamu sadari kalau itu semua hanya basa-basi.
Tenang saja sayang, aku hanya menggila malam ini, menggila karena baru saja melalui percakapan dengan dua sahabat idiotku yang sangat kurindu. Jadi besok belikan saja aku pagi-pagi pergi mencari uang atau malam-malam yang penuh dengan parfum2 mahal dan segelas margarita kesukaanku. Karena senjamu enggan beranjak untuk membelikan ku sebungkus malboro menthol di warung depan. Slamat Malam Sayang…
2 Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Le, kau abis baca Negri Senja Seno ya??hehhehe, ada yang menarik dari tulisan kau ini “..Seperti sosok pujangga di masa laluku yang memuja-muja senja dengan segala atributnya…” Sepanjang hidup aku hanya ada satu sosok yang penyuka senja dan setiap karya Seno hehehhe,, My ex room mate
Isnt He???…
Setiap puisinya seneng dengan kata semburat senja..Semoga kau temukan pujangga lain yang gak hanya memuja senja tapi bisa memuja setiap desahan nafas sebagai keindahan, sebagai rayuan hehehhe
aku suka senja kok Le, senja itu menurut aku sebuah bayangan ketakutan akan malam yang akan kita temui, ada sebuah kengerian tapi juga ada sebuah keindahan di dalamnya ketika menikmati semburatnya, sebuah paradoks yang terjadi, iya gak?? bukankah hidup ini adalah sebuah paradoks tanpa henti,antara idealis dan pragmatis,
NB: Le ada buku bagus le, aku baca sinopsisnya di kompas minggu, Sang Profesor Musik terbitan KPG Penyuntingnya Ayu Utami Penulisnya dari Austria Jellinek Dapet hadiah novel dari bukunya itu…Kalo dari sekilas sinopsis tu buku kayak Veronica Memilih Mati (Coelho) atau Kata(Satre), cuman gw belum baca, kisah yang aku tangkep tentang konflik antara seorang anak dengan orangtua,,, Kau beli ya biar nambah favorite bukunya heheh
Bocah Ndeso 06.14.06 @ 4:11 amWaduh Leon,,,,Puitis amat yaaaa.,.,.,.,.,.,he2.,.,.tapi sumpah keren bgt,jd makin kagum aja nii.,.keepcontact yaaa
'DikaKEDUA 06.21.06 @ 9:59 pm