IBUKU
Sore ini aku bersandar pada tembok ruang tamu, menyeruak kolong kursi reot yang sudah 10 tahun mencoba berdiri diatas kaki-kakinya yang lapuk.
“Ibu sebetulnya pengen ganti kursi sama sofa yang model baru itu loh mbak. Tapi Bapak ngga setuju. Lagian rumah ini kan dah mulai dimakanin rayap tuh atap kamar Mas Tono udah ambruk. Pusing Mbak, banyak banget yang harus dipikirin, semua ngantri”.
Ibu, yang wanita, yang orang tua, yang anak, yang saudara “saudara-saudaranya”, yang sekertaris RT, yang suka masak yang suka beres-beres, yang sayang aku, yang perasa, dan yang perkasa.
Pilar kastil penyangga sudut-sudut rumah yang selalu menjaga nama baik sang suami, menasehati sang anak, menjadi curahan hati si mbah, bulik, paklik, dan tetangga. Ibu yang selalu terbangun jam 12 malam karena suara TV yang dinyalakan Bapak, dan selalu dijadikannya alasan untuk sholat tahajud, tak mengeluh. Ibu yang suka kumat sakit astmanya karena kelelahan masak-masak untuk acara selametan tetangga yang sudah menjanda.
“Kasian Mbak, orang-orang ngga ada yang mau bantuin dia”.
Ibu yang suka sekali dipijet dan dikeroki sebelum tidur dan tetap semangat setiap pagi berangkat senam. Ibu yang selalu mengajak anak-anaknya hadir dalam segala bentuk acara arisan keluarga. Ibu yang suka menangis di tangga menungguku yang tak kunjung pulang. Ibu yang rajin mencatat segala bentuk pengeluaran dan pemasukan di buku wajibnya. Ibu yang selalu berusaha untuk belajar mengaji. Ibu yang matanya hanya bisa berkaca-kaca menahan bentakan Bapak. Ibu yang suka mengilik-ngilik hidungnya hanya agar membuatnya terbersin dan menurutnya itu adalah terapi mutakhir untuk menghilangkan rasa pusing. Ibu ku…
SENJAMU ITU
Aku benci kamu, yang telah mencanduku dengan seribu cinta senjamu. Seperti sosok pujangga dimasa laluku yang memuja-muja senja dengan segala atributnya. Dasar laki-laki aneh, seperti baru membaca Seno dan mulai mentertawakan dunia dengan segala kepincangannya. Padahal kamu bagian dari organ yang pincang itu. Lalu apa artinya sebuah senja yang hanya bisa kau bungkus, kau amplopi dan kau berikan pada kekasih butamu itu. Sebetulnya kamu bisa saja membeli sebuah pagi di toko2 obat yang menjual berbagai macam merk obat tidur.
Adaapa dengan senjamu itu, apa hanya sekedar basa-basi perayu Wanita? Karena sepertinya wanita-wanita jaman sekarang sudah tidak mampu untuk dirayu melalui jalur klenik. Kamu masih muda, masih terlalu muda untuk merasakan senja yang akhirnya tenggelam di garis pantai Ancol yang bau dan kotor karena kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan bencana ciptaan manusia. Biar saja kamu menjadi Arjuna yang berusaha menyelamatkan wangsa Bharata dari kepunahan melalui tabungan spermanya di darah Parikesit meskipun tetap saja tindakanmu tidak akan dipercaya sebagai sikap satria seutuhnya. Karena penilaian itu absurb, nilai-nilai kebaikan itu sendiri absurb. Kamu bagian dari mereka yang telah kau caci, bagian dari mereka yang kamu benci, bagian dari mereka yang kamu musuhi, dan kemudian kau bunuh. Kamu hanya terlalu idealis itu saja. Tapi sebuah idealisme tanpa didukung oleh kemampuan untuk merayu dan menjilat orang-orang disekitarmu hanyalah sebuah pengkebirian kenyamanan itu sendiri. Kamu memilih larut dalam jalan kesunyian, jalan sunyi seorang penulis yang harus dihadapi pada kesedihan-kesedihan perlawanan lingkunganmu, yang notabene bakal kamu sadari kalau itu semua hanya basa-basi.
Tenang saja sayang, aku hanya menggila malam ini, menggila karena baru saja melalui percakapan dengan dua sahabat idiotku yang sangat kurindu. Jadi besok belikan saja aku pagi-pagi pergi mencari uang atau malam-malam yang penuh dengan parfum2 mahal dan segelas margarita kesukaanku. Karena senjamu enggan beranjak untuk membelikan ku sebungkus malboro menthol di warung depan. Slamat Malam Sayang…