Filed under: Uncategorized
Langit pucat menarik pekat. Aku terpuruk dalam khayal tak bersyair. Liriknya adalah nilai-nilai kelembutan kasih tulus tak berbatas. Titik airnya menutup tanah kering retak tak bertumbuh. Pintu hati pemberhentian sejenak sang pengembara.
Dengan 2 mili cairan kau melesap perlahan melalui sel-sel kulit ariku. Kau memang berhasil mencanduku. Candu yang memberikan imaji nirwana dalam terbang tak berawan. Akupun hanyut dalam bahagia tak kasat mata. Candu yang semena-mena memberikan kepuasan sementara, yang hanya datang sejenak bermain manis bersama khayal dan mimpi, lalu pergi bersama lesapan asap meng-abu. Candu yang mengakar perlahan dalam kenikmatan rasa pada lembaran neuron otakku, menjalar ke setiap pangkal sarafku, menyebar ke setiap ujung cabangnya, menderu dalam badai serotonin
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>