Filed under: Uncategorized
Tuh..kan.. aku jadi nangis, setelah sekian hari aku coba menidakprioritaskan sisi emosionalku. Hiks,… aku hanya tak mau terbunuh rasa rindu, itu saja. Karena aku masih ingin menikmati rasa cinta. Andaikan aku bersikap ceria, biasa, itu karena aku tidak ingin saat yang hanya sebentar itu merusak harimu. Aku tidak ingin bersedih karena kamu bersedih, aku hanya ingin membesarkan hatimu, walau sebenarnya aku merasa sama. Mungkinkah jika kita berdua sama-sama terbunuh rasa rindu kita kan bertemu di akhirat? Tidak ada yang menjamin, Sayang… Aku hanya ingin mengisi hari-hariku yang sedikit ini dengan mencintaimu. Mencinta dalam konsep yang lebih universal, kembali pada usaha ketidakberhinggaan. Aku mencintaimu seperti rasa manis yang kukecap dari teh seduhan bude yang dia hidangkan bersama sego pecel seharga seribu perak setiap pagi. Sego pecel dengan ramuan srundeng, kering tempe dan peyek kacang. Disiram sambal kental, bercampur dengan uap nasi liwet yang mengembun di permukaan bungkus daun pisang. Bukan masalah rasa. Tapi suasana pagi yang ramai oleh kokok ayam jago dan seruan nyaring cerobong asap pabrik gula dibelakang rumah. Bukan masalah bentuk. Tapi percakapan dalam bahasa jawa yang kental dengan suara minyak panas yang baru saja di tuangi telur dadar, melentik-lentik ramai dari dapur.
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>