Malam Pasca Purnama Kala Kunang Jadi Raja


AKU BENCI JARAK
April 25, 2006, 5:19 pm
Filed under: Uncategorized

Adakah yang indah dari sebuah perpisahan?Ku tak percaya. Karna hanya perih yang tersisa. Mungkin disela-sela deru mesin kereta yang membawaku pergi jauh darimu. Jarak itu mati tertutup khayal. Kita memang selalu bermimpi..dan terus bermimpi… apalagi yang menghidupkan rasa kalau bukan harapan. Hari dan waktu kian mengoyahkan keyakinan, mimpi makin tak pasti. Aku masih hidup, tolong jangan matikan aku dalam mimpi, demi jiwa.  Apa yang akan kita ukir tanpa pahat, meski kupercaya kita masih mempunyai jari-jari. Apalagi yang harus kupercaya dari kikisan hari-hari tanpamu. Ketiadaan, cinta utopis. Aku pernah berkata suatu ketika dalam percakapan mesra kita. “Aku benci jarak.. ketika aku sudah begitu dekat, seperti menunda dan menguji” Bahkan untuk sebuah rindu lagi, aku mulai merasa sesak. Jadi sekarang aku hanya mahluk sekarat tanpa cinta…Cintaku kian menjauh berlari entah kemana dan aku hanya diam termangu, tak tau musti bagaimana. Entah, hanya bayang, hanya kenangan, aku hidup dari serpihan bahagia hari kemarin. Seperti katamu, “Hubungan yang tidak mungkin”



MEMBUNUH RINDU
April 25, 2006, 5:17 pm
Filed under: Uncategorized

Tuh..kan.. aku jadi nangis, setelah sekian hari aku coba menidakprioritaskan sisi emosionalku. Hiks,… aku hanya tak mau terbunuh rasa rindu, itu saja. Karena aku masih ingin menikmati rasa cinta. Andaikan aku bersikap ceria, biasa, itu karena aku tidak ingin saat yang hanya sebentar itu merusak harimu. Aku tidak ingin bersedih karena kamu bersedih, aku hanya ingin membesarkan hatimu, walau sebenarnya aku merasa sama. Mungkinkah jika kita berdua sama-sama terbunuh rasa rindu kita kan bertemu di akhirat? Tidak ada yang menjamin, Sayang… Aku hanya ingin mengisi hari-hariku yang sedikit ini dengan mencintaimu. Mencinta dalam konsep yang lebih universal, kembali pada usaha ketidakberhinggaan. Aku mencintaimu seperti rasa manis yang kukecap dari teh seduhan bude yang dia hidangkan bersama sego pecel seharga seribu perak setiap pagi. Sego pecel dengan ramuan srundeng, kering tempe dan peyek kacang. Disiram sambal kental, bercampur dengan uap nasi liwet yang mengembun di permukaan bungkus daun pisang. Bukan masalah rasa. Tapi suasana pagi yang ramai oleh kokok ayam jago dan seruan nyaring cerobong asap pabrik gula dibelakang rumah. Bukan masalah bentuk. Tapi percakapan dalam bahasa jawa yang kental dengan suara minyak panas yang baru saja di tuangi telur dadar, melentik-lentik ramai dari dapur.